KITATANGERANG.ID | TANGERANG —Bencana banjir tidak semata-mata disebabkan oleh faktor alam. Dalam kajian ilmiah maupun perspektif keagamaan, khususnya Al-Qur’an, manusia disebut memiliki kontribusi besar terhadap kerusakan lingkungan yang pada akhirnya memicu terjadinya bencana. Hal tersebut disampaikan Ahmad Suhud, Direktur Eksekutif Lembaga BP2A2N Banten, Kamis (22/1/2026).

Menurut Suhud, secara konsep Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Tangerang sebenarnya sudah cukup baik. Namun, permasalahan utama terletak pada lemahnya implementasi di lapangan yang masih menghadapi berbagai kendala.
“Rencana tata ruangnya sudah baik, tetapi penerapannya belum maksimal,” ujar Suhud kepada awak media.
Ia menambahkan, tata ruang wilayah seharusnya memiliki mekanisme evaluasi atau review secara berkala, minimal setiap lima tahun sekali. Hasil evaluasi tersebut penting untuk menentukan apakah RTRW masih relevan atau perlu direvisi menyesuaikan perkembangan wilayah.
Suhud menegaskan, peninjauan ulang tata ruang Kabupaten Tangerang menjadi keharusan mengingat dinamika pembangunan dan pertumbuhan wilayah yang berlangsung sangat cepat. Selain itu, ia juga menyoroti perilaku masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan serta menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan akhir.
“Kita sering terburu-buru menyalahkan alam. Padahal tugas manusia sebagai khalifah di bumi adalah menjaga dan mengharmonisasikan lingkungan agar tetap seimbang,” terangnya.
Lebih lanjut, Suhud menyampaikan bahwa kerusakan lingkungan, baik di darat maupun di laut, sebagian besar merupakan dampak dari aktivitas manusia. Mulai dari eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, pengabaian tata ruang, hingga alih fungsi lahan yang tidak terkendali.
Dalam literatur ilmiah klasik maupun modern, lanjut Suhud, fenomena alam seperti hujan, angin, dan gempa bumi tidak dikategorikan sebagai penyebab utama bencana, melainkan sebagai faktor pemicu (triggering factors). Faktor utama yang meningkatkan kerentanan suatu wilayah justru perubahan struktur dan ekosistem alam akibat ulah manusia.
“Seperti SPBU yang memiliki potensi kebakaran. Tanpa pemantik, tidak akan terjadi kebakaran. Pemantiknya adalah tindakan manusia,” jelasnya.
Ia menilai, kesalahan paradigma inilah yang membuat sebagian masyarakat mudah menyalahkan hujan sebagai penyebab banjir, sementara akar persoalan seperti deforestasi, tata ruang yang keliru, pembangunan di kawasan rawan bencana, serta minimnya perencanaan risiko jangka panjang justru kerap diabaikan.
(Yanto)












